Atlet memegang lutut yang mengalami cedera saat melakukan aktivitas olahraga

Baik saat mengangkat beban di pusat kebugaran, mengejar bola di lapangan pickleball, melakukan smash saat bermain bulu tangkis, maupun menikmati pertandingan tenis di akhir pekan, lutut Anda bekerja lebih keras daripada yang mungkin Anda sadari.

Anda menyelesaikan latihan kaki yang intens dan merasa kuat. Beberapa hari kemudian, Anda melakukan peregangan untuk mengembalikan pukulan saat bermain pickleball. Keesokan paginya, lutut Anda terasa kaku, nyeri, atau sedikit bengkak.

Jadi, apa penyebabnya? Apakah karena squat dengan beban berat? Gerakan lunges yang dilakukan berulang kali? Berhenti secara tiba-tiba dan mengubah arah dengan cepat? Atau Anda hanya memberikan beban yang terlalu besar pada lutut dalam satu minggu?

Bagi banyak orang dewasa yang aktif, membedakan antara nyeri otot normal setelah berolahraga dan masalah lutut yang memerlukan perhatian medis tidak selalu mudah.

Memahami penyebab lutut terasa nyeri merupakan langkah pertama untuk mendapatkan pemulihan yang baik dan tetap menikmati aktivitas yang Anda sukai.

Apa Kesamaan Squat dan Lunges di Lapangan?

Meskipun squat di pusat kebugaran dan gerakan lunges, pivot, serta perubahan arah yang cepat dalam olahraga pickleball, bulu tangkis, padel, dan tenis terlihat sangat berbeda, keduanya memberikan tuntutan yang serupa pada tubuh Anda.

Kedua jenis gerakan tersebut mengharuskan pinggul, lutut, dan pergelangan kaki bekerja secara bersamaan, sementara otot membantu menjaga keseimbangan, menyerap gaya, dan mendorong tubuh kembali ke posisi semula.

Perbedaan terbesar terletak pada seberapa mudah gerakan tersebut diprediksi.

Saat melakukan squat

Squat biasanya dilakukan secara perlahan dan terkontrol. Anda menentukan seberapa dalam melakukan squat, seberapa cepat bergerak, dan berapa banyak beban yang diangkat.

Saat melakukan squat:

  • Kedua kaki biasanya tetap berpijak di lantai.
  • Gerakannya terkontrol dan dilakukan secara berulang.
  • Beban berasal dari berat badan atau beban tambahan.
  • Lutut menekuk dan kembali lurus dalam rentang gerak yang telah direncanakan.

Saat bermain pickleball, padel, atau tenis

Olahraga lapangan jauh lebih sulit diprediksi. Dalam satu momen Anda dapat berdiri diam. Sesaat kemudian, Anda mungkin harus melakukan lunges ke samping, berhenti secara tiba-tiba, atau mengubah arah untuk mengejar bola.

Saat melakukan olahraga lapangan:

  • Satu kaki sering kali menanggung sebagian besar berat badan.
  • Gerakan berlangsung dengan cepat dan tidak terduga.
  • Tubuh dapat berputar sementara kaki tetap berpijak di lantai.
  • Berhenti dan mengubah arah secara tiba-tiba memberikan tekanan tambahan pada lutut.

Inilah sebabnya lutut Anda mungkin terasa baik-baik saja setelah latihan kaki di pusat kebugaran, tetapi menjadi nyeri setelah melakukan rally panjang di lapangan.

Apakah Squat dan Lunges Buruk untuk Lutut?

Tidak selalu. Squat dan lunges pada dasarnya tidak buruk bagi lutut.

Bahkan, keduanya merupakan gerakan yang dilakukan tubuh dalam aktivitas sehari-hari. Duduk, berdiri, menaiki tangga, dan mengambil sesuatu dari lantai semuanya melibatkan pola gerakan yang serupa.

Jika dilakukan dengan tepat, squat dan lunges dapat memperkuat otot di sekitar pinggul dan lutut, sehingga membantu meningkatkan stabilitas dan menopang sendi.

Nyeri lutut lebih mungkin terjadi ketika:

  • Anda meningkatkan beban terlalu cepat atau menggunakan postur yang tidak tepat.
  • Anda melakukan lebih banyak repetisi daripada yang biasa dilakukan tubuh.
  • Anda kembali berolahraga setelah lama tidak beraktivitas.
  • Anda tiba-tiba bermain pickleball atau tenis beberapa kali tanpa meningkatkan intensitas secara bertahap.
  • Anda memiliki kondisi lutut atau pernah mengalami cedera sebelumnya.

Gerakannya sendiri jarang menjadi masalah. Lebih sering, lutut Anda hanya diminta melakukan lebih banyak aktivitas daripada yang saat ini mampu ditangani.

Mengapa Lutut Bisa Terasa Nyeri Saat Squat atau Berolahraga di Lapangan?

Mengalami nyeri lutut setelah berolahraga di pusat kebugaran atau bermain pickleball tidak selalu berarti Anda mengalami cedera lutut. Dalam banyak kasus, nyeri tersebut merupakan respons tubuh saat beradaptasi dengan tingkat aktivitas yang baru atau menghadapi beban latihan yang lebih tinggi dari biasanya.

Beberapa faktor dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada lutut.

1. Anda Meningkatkan Aktivitas Terlalu Cepat

Mungkin Anda memulai minggu dengan latihan kaki menggunakan beban berat di pusat kebugaran, kemudian menyempatkan diri bermain pickleball beberapa kali di akhir pekan.

Meskipun otot mungkin pulih dalam satu atau dua hari, sendi, tendon, dan tulang rawan sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Meningkatkan volume atau intensitas latihan terlalu cepat dapat memberikan tekanan tambahan pada lutut.

2. Tubuh Anda Mengalami Kelelahan

Otot di sekitar pinggul, paha, dan betis membantu menyerap benturan serta menjaga kestabilan lutut.

Ketika otot-otot tersebut mulai lelah, lutut mungkin harus bekerja lebih keras saat melakukan squat, lunges, dan perubahan arah secara tiba-tiba. Hal ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, terutama menjelang akhir sesi latihan atau pertandingan yang berlangsung lama.

3. Pola Gerakan Anda Perlu Diperbaiki

Teknik juga dapat memengaruhi seberapa besar tekanan yang diterima lutut.

Saat melakukan squat, misalnya, kontrol gerakan yang kurang baik atau mobilitas yang terbatas dapat menyebabkan beban lebih besar diberikan pada bagian tertentu dari sendi. Dalam olahraga lapangan, gerakan lunges, pivot, dan berhenti secara tiba-tiba yang dilakukan berulang kali mengharuskan lutut menyerap gaya dari berbagai arah.

Tujuannya bukan melakukan teknik yang sempurna, melainkan bergerak dengan kontrol yang baik dan dalam rentang gerak yang sesuai dengan kemampuan tubuh Anda.

4. Pinggul dan Pergelangan Kaki Mungkin Tidak Berbagi Beban Secara Optimal

Lutut bekerja sebagai bagian dari suatu rangkaian gerak.

Jika otot pinggul kurang kuat atau pergelangan kaki kaku, lutut mungkin harus menanggung lebih banyak beban saat melakukan squat, lunges, dan berbagai gerakan di lapangan.

Meningkatkan kekuatan pinggul, mobilitas pergelangan kaki, dan keseimbangan sering kali dapat mengurangi tekanan yang tidak diperlukan pada lutut.

5. Anda Pernah Mengalami Cedera Lutut

Cedera lama tidak selalu sembuh sepenuhnya.

Robekan meniskus, cedera ligamen, atau kerusakan tulang rawan sebelumnya dapat kembali menimbulkan gejala ketika tingkat aktivitas meningkat atau saat kembali berolahraga setelah lama berhenti.

6. Gerakan Berulang di Lapangan Dapat Terakumulasi

Olahraga seperti pickleball dan tenis melibatkan jauh lebih banyak gerakan daripada sekadar berlari dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya.

Pemain berulang kali melakukan squat untuk mengambil posisi siap, melakukan lunges untuk mengejar bola rendah, berhenti secara tiba-tiba, dan mengubah arah sepanjang pertandingan. Gerakan yang berulang ini dapat memberikan tuntutan yang cukup besar pada lutut, terutama jika Anda baru mulai bermain atau bermain selama beberapa jam dalam satu waktu.

Seiring waktu, beban berulang tersebut dapat menyebabkan iritasi pada tempurung lutut, tendon, atau struktur lain di sekitar lutut, terutama jika tubuh tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk pulih.

Nyeri Otot atau Nyeri Lutut? Bagaimana Membedakannya?

Setelah melakukan latihan kaki yang berat atau bermain pickleball dengan intens, merasa pegal merupakan hal yang normal. Otot Anda mungkin terasa nyeri selama proses pemulihan dan beradaptasi terhadap latihan, terutama jika Anda meningkatkan intensitas latihan atau mencoba aktivitas baru.

Namun, nyeri pada sendi berbeda dengan nyeri otot. Mengetahui perbedaannya dapat membantu Anda menentukan apakah lutut hanya membutuhkan waktu pemulihan lebih lama atau perlu diperiksakan.

Kemungkinan merupakan nyeri otot yang normal jika:

  • Paha, bokong, atau betis terasa lelah setelah berolahraga.
  • Kedua kaki terasa nyeri dengan tingkat yang serupa.
  • Rasa tidak nyaman mulai muncul beberapa jam setelah berolahraga.
  • Rasa pegal berangsur-angsur membaik dalam dua hingga tiga hari berikutnya.
  • Tidak terdapat pembengkakan, sensasi lutut terkunci, atau rasa lutut tidak stabil.

Kemungkinan bukan sekadar nyeri otot jika:

  • Nyeri terasa jauh di dalam lutut.
  • Salah satu lutut terasa jauh lebih nyeri dibandingkan lutut lainnya.
  • Lutut mengalami pembengkakan.
  • Nyeri muncul setiap kali Anda melakukan squat, lunges, atau menaiki tangga.
  • Lutut terasa seperti tersangkut, terkunci, atau tiba-tiba kehilangan kemampuan menopang tubuh.
  • Nyeri terus kembali setelah berolahraga.
  • Berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman.

Gejala-gejala tersebut tidak selalu menunjukkan cedera serius, tetapi tidak sebaiknya diabaikan jika menetap atau terus mengganggu aktivitas Anda.

Di Mana Lutut Anda Terasa Nyeri?

Lokasi nyeri lutut terkadang dapat memberikan petunjuk mengenai bagian sendi yang mengalami tekanan. Namun, nyeri saja tidak dapat memastikan penyebabnya secara tepat. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan gejala yang Anda alami bersama dengan bagaimana cedera tersebut terjadi.

1. Nyeri di bagian depan lutut

Nyeri di sekitar atau di belakang tempurung lutut sering dialami oleh orang yang mengalami nyeri lutut saat melakukan squat. Nyeri juga dapat terasa saat menaiki tangga, berdiri dari kursi, atau duduk dalam waktu lama.

Jenis nyeri ini dapat terjadi ketika tempurung lutut atau jaringan di sekitarnya mengalami iritasi akibat gerakan menekuk yang berulang atau peningkatan beban latihan.

2. Nyeri di bagian dalam atau luar lutut

Nyeri di sisi dalam atau luar lutut sering dirasakan setelah melakukan olahraga yang melibatkan gerakan lunges, pivot, atau perubahan arah secara tiba-tiba dan berulang, seperti pickleball atau tenis.

Nyeri tersebut dapat berkaitan dengan iritasi pada ligamen, tendon, atau meniskus, meskipun pemeriksaan yang tepat tetap diperlukan untuk menentukan penyebabnya.

3. Nyeri di bagian belakang lutut

Nyeri di belakang lutut dapat muncul setelah melakukan aktivitas seperti berlari, squat, atau lunges secara berulang. Kondisi ini dapat berkaitan dengan otot, tendon, atau struktur lain di sekitar bagian belakang sendi.

4. Nyeri setelah gerakan memutar secara tiba-tiba

Nyeri tajam setelah melakukan pendaratan yang tidak tepat, pivot, atau gerakan memutar perlu mendapat perhatian lebih, terutama jika disertai pembengkakan, ketidakstabilan, atau kesulitan menumpukan berat badan pada kaki.

Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan cedera yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Lutut Berbunyi Tidak Selalu Berarti Cedera

Pernahkah Anda mendengar bunyi klik atau letupan dari lutut saat melakukan squat?

Meskipun bunyi tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran, hal ini tidak selalu menandakan adanya masalah.

Dalam banyak kasus, bunyi klik tanpa disertai nyeri terjadi ketika tendon bergerak melewati sendi atau gelembung gas kecil terbentuk dan dilepaskan di dalam cairan sendi. Kondisi ini umum terjadi dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, bunyi klik sebaiknya diperiksakan jika disertai:

  • Nyeri
  • Pembengkakan
  • Lutut terasa terkunci atau tersangkut
  • Rentang gerak yang berkurang
  • Sensasi lutut seperti kehilangan kemampuan menopang tubuh

Bunyi itu sendiri sering kali tidak terlalu penting dibandingkan dengan gejala yang menyertainya.

Squat di Pusat Kebugaran vs Lunges di Lapangan: Mana yang Lebih Membebani Lutut?

Latihan di pusat kebugaran maupun olahraga di lapangan sama-sama memberikan tantangan bagi lutut, tetapi dengan cara yang berbeda.

Saat melakukan latihan kaki di pusat kebugaran, gerakan seperti squat biasanya dilakukan secara terkontrol dan berulang. Anda dapat menentukan beban, kecepatan, dan kedalaman setiap repetisi.

Sebaliknya, olahraga seperti padel atau tenis melibatkan perubahan arah yang terus-menerus, berhenti secara tiba-tiba, gerakan memutar, serta lunges dengan cepat yang mengharuskan lutut bereaksi secara instan.

GerakanApa yang memberikan beban pada lutut?
Squat dengan berat badanGerakan menekuk dan berdiri secara berulang
Squat dengan bebanPeningkatan beban pada sendi
Squat dalamRentang gerak yang lebih luas
Forward lungeSatu kaki menopang sebagian besar berat badan
Side lungeKeseimbangan dan kontrol gerakan ke samping
Berhenti secara tiba-tibaPerlambatan secara cepat
PivotGaya puntir yang diteruskan melalui lutut
Rally panjangKelelahan dan beban berulang

Daripada mempertanyakan aktivitas mana yang lebih buruk, pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah tubuh Anda sudah siap menghadapi tuntutan aktivitas tersebut.

Meningkatkan intensitas secara bertahap memberikan waktu bagi otot, tendon, dan sendi untuk beradaptasi, sehingga mengurangi risiko cedera akibat penggunaan berlebihan.

Apakah teknik saya salah?

Tidak ada satu teknik squat atau lunge yang dapat dianggap sebagai teknik "sempurna" untuk semua orang. Faktor seperti tinggi badan, fleksibilitas, kekuatan, mobilitas, dan riwayat cedera dapat memengaruhi cara Anda bergerak.

Daripada mencoba meniru teknik orang lain, fokuslah untuk bergerak dengan kontrol yang baik dan dalam rentang gerak yang nyaman bagi tubuh Anda.

Beberapa prinsip sederhana meliputi:

  • Bergerak secara perlahan dan terkontrol.
  • Biarkan pinggul, lutut, dan pergelangan kaki bekerja secara bersamaan.
  • Tingkatkan beban dan intensitas latihan secara bertahap.
  • Hindari memaksakan gerakan saat mengalami nyeri tajam atau nyeri yang berulang.
  • Berikan tubuh waktu yang cukup untuk pulih di antara sesi latihan intensif.

Bagi pemain pickleball, padel, dan tenis, mengembangkan kontrol gerakan yang baik di lapangan juga sama pentingnya. Kemampuan untuk memperlambat gerakan, mengubah arah, dan memulihkan keseimbangan secara efisien dapat mengurangi tekanan yang tidak diperlukan pada lutut.

Ingatlah bahwa teknik yang baik tidak menjamin Anda tidak akan pernah mengalami nyeri lutut. Sebaliknya, mengalami nyeri juga tidak selalu berarti teknik Anda buruk. Sering kali, faktor yang paling penting adalah apakah tubuh Anda telah memiliki cukup waktu untuk beradaptasi dengan tuntutan yang Anda berikan.

Kapan Sebaiknya Anda Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Ortopedi?

Sebagian besar kasus nyeri lutut dapat membaik dengan istirahat, penyesuaian aktivitas, dan waktu. Namun, beberapa gejala tidak boleh diabaikan.

Anda sebaiknya mendapatkan pemeriksaan medis jika mengalami:

  • Nyeri lutut yang tiba-tiba atau parah.
  • Sensasi bunyi letupan pada saat mengalami cedera.
  • Pembengkakan yang muncul dengan cepat setelah terjatuh atau melakukan gerakan memutar.
  • Kesulitan berdiri atau berjalan.
  • Lutut terasa terkunci atau tidak dapat diluruskan sepenuhnya.
  • Lutut berulang kali terasa tidak stabil atau seperti akan menyerah.
  • Perubahan bentuk lutut yang terlihat jelas.

Pemeriksaan juga sebaiknya dilakukan jika:

  • Nyeri terus berulang setelah berolahraga.
  • Pembengkakan tidak kunjung membaik.
  • Lutut terasa kaku atau rentang geraknya menjadi terbatas.
  • Aktivitas sehari-hari seperti menaiki tangga terasa nyeri.
  • Anda tidak dapat kembali berolahraga di gym atau melakukan aktivitas olahraga dengan nyaman.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mengidentifikasi apakah gejala yang Anda alami berkaitan dengan penggunaan lutut secara berlebihan, kerusakan tulang rawan, cedera ligamen, atau kondisi lutut lainnya.

Apa Saja yang Mungkin Termasuk dalam Penanganan?

Kabar baiknya, banyak kondisi lutut dapat ditangani tanpa operasi.

Penanganan bergantung pada penyebab yang mendasari, tingkat keparahan gejala, serta aktivitas yang ingin Anda lakukan kembali.

Bagi banyak orang, penanganan dapat meliputi:

  • Penyesuaian aktivitas untuk sementara waktu.
  • Fisioterapi untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan bergerak.
  • Obat-obatan untuk meredakan nyeri, jika sesuai.
  • Suntikan pereda nyeri atau antiradang pada kasus tertentu.

Jika terdapat cedera yang lebih signifikan, penanganan lebih lanjut terkadang dapat direkomendasikan, termasuk:

  • Operasi lutut artroskopi (bedah minimal invasif).
  • Prosedur perbaikan atau regenerasi tulang rawan.
  • Rekonstruksi atau penggantian sendi untuk kerusakan sendi yang sudah lanjut.

Jika Anda telah didiagnosis mengalami kerusakan tulang rawan, salah satu pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah mengenai waktu pemulihan dari kerusakan tulang rawan lutut. Waktu pemulihan berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan jenis penanganan yang diperlukan. Sebagian orang dapat membaik hanya dengan rehabilitasi, sementara sebagian lainnya mungkin memerlukan tindakan operasi yang diikuti beberapa bulan masa pemulihan sebelum dapat kembali melakukan aktivitas dengan benturan tinggi.

Rencana penanganan Anda harus selalu disesuaikan dengan kondisi, gaya hidup, serta aktivitas yang ingin Anda lakukan kembali.

Bagaimana Membantu Menjaga Kesehatan Lutut?

Wanita mengalami nyeri lutut saat berolahraga di luar ruangan

Baik saat berlatih untuk memperkuat kaki maupun bermain pickleball setiap minggu, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kesehatan lutut.

1. Tingkatkan aktivitas secara bertahap

Hindari peningkatan beban, frekuensi latihan, atau durasi bermain secara drastis. Memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dapat membantu mengurangi risiko cedera akibat penggunaan berlebihan.

2. Lakukan pemanasan sebelum berolahraga

Pemanasan yang tepat mempersiapkan otot dan sendi untuk bergerak. Latihan dinamis yang mengaktifkan otot pinggul, paha, dan betis dapat membantu tubuh bergerak dengan lebih efisien.

3. Perkuat lebih dari sekadar lutut

Otot bokong, paha depan, paha belakang, dan betis yang kuat bekerja sama untuk menopang lutut. Program latihan penguatan yang seimbang sering kali lebih efektif daripada hanya berfokus pada satu kelompok otot.

4. Berikan waktu pemulihan yang cukup

Anda mungkin tergoda untuk melakukan latihan di gym, bermain pickleball, dan berlari di akhir pekan dalam minggu yang sama. Namun, pemulihan sama pentingnya dengan latihan, terutama ketika Anda meningkatkan tingkat aktivitas.

5. Perhatikan nyeri yang berulang

Nyeri ringan yang sesekali muncul setelah berolahraga merupakan hal yang umum.

Namun, nyeri yang terus berulang pada area yang sama, memengaruhi performa, atau mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan dan tidak sebaiknya diabaikan.

Tetap Aktif, tetapi Jangan Abaikan Tandanya

Squat, lari, pickleball, padel, dan tenis merupakan cara yang baik untuk tetap aktif, meningkatkan kekuatan, dan menjaga kebugaran secara keseluruhan. Tidak satu pun dari aktivitas tersebut secara otomatis berbahaya bagi lutut.

Dalam banyak kasus, nyeri lutut setelah berolahraga hanyalah tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih atau beradaptasi dengan peningkatan aktivitas. Memahami penyebab gejala yang Anda alami merupakan langkah pertama menuju penanganan yang efektif dan pencegahan cedera di kemudian hari. Baik disebabkan oleh masalah akibat penggunaan berlebihan yang ringan, cedera meniskus, kerusakan tulang rawan, maupun kondisi lutut lainnya, pemeriksaan sejak dini dapat membantu Anda kembali berolahraga dengan aman dan percaya diri.

Di Island Orthopaedics, Dr Leon Foo menangani berbagai kondisi lutut, mulai dari cedera terkait olahraga dan kerusakan tulang rawan hingga gangguan sendi yang lebih kompleks. Sebagai dokter spesialis ortopedi yang telah menjalani pelatihan fellowship dalam regenerasi tulang rawan dan rekonstruksi sendi, beliau memberikan rencana penanganan yang dipersonalisasi untuk membantu pasien meredakan nyeri, memulihkan fungsi, dan kembali melakukan aktivitas yang mereka sukai.

Jika nyeri lutut mulai memengaruhi latihan Anda, aktivitas di lapangan pickleball, atau bahkan aktivitas sehari-hari, jangan abaikan tanda-tandanya. Mendapatkan pemeriksaan medis sejak dini dapat membantu mencegah masalah ringan berkembang menjadi cedera yang lebih serius.

Buat Janji Temu

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah squat buruk untuk lutut?

Tidak. Squat merupakan gerakan alami yang dilakukan oleh kebanyakan orang setiap hari. Jika dilakukan sesuai dengan kemampuan tubuh dan disertai peningkatan latihan yang tepat secara bertahap, squat dapat membantu memperkuat otot-otot yang menopang lutut.

Mengapa lutut saya sakit setelah bermain olahraga di lapangan?

Pickleball, badminton, padel, dan tenis melibatkan gerakan lunges berulang, berhenti secara tiba-tiba, gerakan memutar, serta perubahan arah. Gerakan-gerakan ini dapat memberikan beban tambahan pada lutut, terutama jika Anda baru-baru ini meningkatkan aktivitas atau kembali berolahraga setelah lama berhenti.

Haruskah saya berhenti berolahraga jika lutut terasa sakit?

Tidak selalu. Rasa tidak nyaman yang ringan dapat membaik dengan penyesuaian aktivitas sementara, seperti mengurangi intensitas latihan atau memberikan waktu pemulihan yang lebih lama. Namun, nyeri tajam, pembengkakan, lutut terkunci, atau ketidakstabilan perlu diperiksa sebelum Anda melanjutkan olahraga.

Apakah bunyi klik saat melakukan squat berarti ada masalah pada lutut?

Bunyi klik tanpa rasa sakit merupakan hal yang umum dan biasanya bukan merupakan tanda cedera. Namun, jika bunyi tersebut disertai nyeri, pembengkakan, lutut terkunci, atau keterbatasan gerak, sebaiknya lutut Anda diperiksa.

Kapan saya perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi untuk nyeri lutut?

Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jika nyeri lutut terus berulang, mengganggu aktivitas sehari-hari, terjadi setelah cedera akibat gerakan memutar, atau disertai pembengkakan, lutut terkunci, ketidakstabilan, atau kesulitan berjalan.